"Semangat kebersamaan dan kemandirian Pramuka Penggalang membakar daya juang peserta di Bumi Perkemahan Buyut Siwalan, Patimban."
PUSAKANAGARA, SUBANG — Suasana Bumi Perkemahan (Buper) Buyut Siwalan yang terletak di Desa Patimban, Kecamatan Pusakanagara, Kabupaten Subang, tampak kian semarak pada memasuki hari ketiga pelaksanaan Acara Gelora Ita Jamnas dalam ajang Gema Pramuka ke-54 Tahun 2026, Rabu(23/9/2026). Ratusan regu Pramuka dari berbagai gugus depan dan kwartir ranting terus menunjukkan ketangkasan, kreativitas, serta kekompakan dalam mengikuti rangkaian kegiatan yang telah disusun secara padat dan edukatif.
Sejak fajar menyingsing, hiruk pikuk aktivitas peserta sudah mulai terasa. Tepat pukul 04.00 WIB, para peserta mengawali hari dengan pemenuhan kebutuhan pribadi dan ibadah mandiri hingga pukul 05.00 WIB. Disiplin waktu menjadi kunci utama pembentukan karakter anggota Pramuka dalam perkemahan skala besar ini. Setelah menyegarkan diri, seluruh peserta menikmati sarapan pagi bersama pada pukul 05.30 hingga 06.30 WIB di area tapak kemah masing-masing dengan kehangatan rasa kekeluargaan.
Memasuki pukul 06.30 WIB, lapangan utama Buper Buyut Siwalan dipenuhi oleh ribuan peserta seragam cokelat yang berbaris rapi untuk mengikuti Senam Pramuka. Gerakan yang energik dan irama musik yang membakar semangat berhasil mengusir kantuk serta menyiapkan kondisi fisik seluruh peserta. Kegiatan olahraga pagi yang berlangsung selama 30 menit ini menjadi sarana menjaga kebugaran tubuh para penggalang di tengah aktivitas perkemahan yang cukup padat.
Tepat pukul 07.00 WIB, peluit panggilan apel berbunyi mengumpulkan seluruh Pembina,Pemimpin Regu, dan anggota Pramuka dalam Apel Pagi Perkemahan. Apel yang berlangsung hingga pukul 08.00 WIB ini dipimpin langsung oleh jajaran Pembina Upacara. Dalam amanatnya, Pembina mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan, menjunjung tinggi kode kehormatan Dasa Darma, serta selalu memelihara kebersihan lingkungan perkemahan, terutama mengingat Kawasan Patimban yang memiliki ekosistem pesisir yang khas.
Selesai pelaksanaan apel pagi, rangkaian agenda berlanjut ke sesi utama pagi hingga siang hari, yakni Anjungan (Wisata Edukasi) dan Penataan Tapak Perkemahan yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 12.00 WIB. Pada sesi Anjungan Wisata Edukasi, para peserta diajak mengenali berbagai potensi daerah, wawasan kebaharian, pengetahuan konservasi lingkungan pesisir Patimban, serta materi kebudayaan lokal Kabupaten Subang.
Di saat bersamaan, sebagian anggota regu bertugas memperkokoh dan mempercantik tapak perkemahan regunya masing-masing. Pemanfaatan tali-temali, gapura bambu kreasi mandiri, serta pengelolaan kebersihan tenda menjadi fokus penilaian panitia. Sinergi dan pembagian tugas dalam regu sangat terlihat, memperlihatkan betapa matangnya jiwa kepemimpinan dan kerja sama antar peserta penggalang.
Memasuki waktu tengah hari (12.00 - 13.00 WIB), suasana perkemahan berganti menjadi arena persiapan kuliner outdoor. Seluruh regu mempersiapkan bahan-bahan masak tradisional untuk mengikuti giat Masak Rimba yang dijadwalkan pukul 13.00 hingga 15.00 WIB. Tanpa perlengkapan modern, para peserta ditantang mengolah bahan pangan dengan peralatan sederhana di alam terbuka, memanfaatkan kayu bakar dan teknik perapian alami.
Aroma masakan khas daerah menyerbak di seluruh penjuru Buper Buyut Siwalan. Kegiatan ini tidak hanya melatih kemandirian dan keterampilan bertahan hidup (survival skill), tetapi juga menguji kejelian peserta dalam menyajikan hidangan yang bergizi dan lezat di tengah keterbatasan sarana.
Bersamaan dengan giat Masak Rimba, di panggung utama dan area serbaguna diselenggarakan perlombaan spiritual Musabaqah Hifzil Qur'an (MHQ). Kegiatan ini menjadi wadah unjuk kebolehan para penggalang dalam menghafal Al-Qur'an, menunjukkan bahwa keunggulan fisik dan keterampilan lapangan Pramuka selalu berimbang dengan keteguhan spiritual dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Setibanya sore hari pukul 15.00 hingga 16.30 WIB, seluruh regu memfokuskan energi untuk persiapan Upacara Api Unggun. Kayu-kayu kering ditumpuk rapi membentuk struktur piramida ditengah lapangan utama. Setelah persiapan selesai, peserta memasuki masa ISHOMA (Istirahat, Sholat, Makan) dari pukul 16.30 hingga 19.30 WIB untuk membersihkan diri dan menunaikan ibadah maghrib dan isya.
Saat kegelapan malam mulai membungkus Buper Buyut Siwalan Patimban, suasana berubah menjadi sangat sakral. Pukul 19.30 WIB, seluruh peserta berkumpul mengelilingi tumpukan kayu unggun untuk mengikuti Upacara Adat Unggun yang dipimpin langsung oleh Ketua Kwarran Pusakanagara Kak Achmad Sjam, S.Pd., M.Pd.. Nyala api yang membubung tinggi diiringi pengucapan Dasa Darma Pramuka menciptakan momen puitis dan haru. Api unggun tidak sekedar pembakar kayu, melainkan simbol kobaran semangat persaudaraan yang tak kunjung padam di dada setiap Pramuka.
Kehangatan malam mencapai puncaknya pada pukul 21.00 hingga 22.00 WIB saat digelarnya penampilan Finalis pentas Seni Putra & Putri. Regu-regu terbaik yang telah lolos babak penyisihan menampilkan atraksi seni budaya terbaik mereka, mulai dari tarian tradisional khas Pasundan, drama kolosal Pramuka, musik musikalisasi puisi, hingga kreasi seni modern. Tepuk tangan dan sorak-sorai penonton meramaikan malam perpisahan giat hari ketiga ini.
Tepat pukul 22.00 WIB, seluruh rangkaian acara hari ketiga resmi ditutup dengan pengumuman jam istirahat malam. Keheningan kembali menyelimuti Bumi Perkemahan Buyut Siwalan hingga pagi hari berikutnya, meninggalkan kenangan manis dan kebanggaan mendalam di hati seluruh anggota Pramuka Penggalang yang terlibat. (tts)






إرسال تعليق